Sabtu, 03 November 2012

Masyarakat desa dan masyarakat kota dalam pembangunan bangsa Indonesia



Masyarakat desa dan masyarakat kota dalam pembangunan bangsa Indonesia


Pembangunan bangsa Indonesia sangatlah bergantung pada peranan masyarakat Indonesia. Karena apabila masyarakatnya sendiri tidak peduli akan kemajuan dari pembangunan bangsanya, siapa lagi yang akan peduli terhadap bangsa ini. Masyarakat yang berperan di sini adalah masyarakat di kota, desa, atau bahkan di wilayah yang terpencil sekalipun. Semangat pembangunan inilah yang terkadang terlupakan oleh kita. Misalnya saja di desa, peranan masyarakat sangat membantu untuk dapat meningkatkan potensi-potensi yang ada di pedesaan. Contohnya jika di desa tersebut tersimpan suatu kekayaan alam SDA yang berlimpah, semestinya masyarakat di desa tersebut dapat memanfaatkannya dengan baik dan tidak hanya mengeksploitasinya saja. Sebab dengan hanya mengeksploitasi saja SDA tersebut akan habis dalam waktu singkat.
Masyarakat juga dapat mengembangkan potensi lainya yang, seperti melakukan pelatihan-pelatihan terhadap warga desa agar dapat menjadi pribadi yang mandiri, serta dapat membuka lapangan pekerjaan baru di tempat mereka berasal sehingga dapat meningkat pendapatan bagi warga desa. Akan tetapi terkadang pemerintah juga tidak memberikan perhatian yang khusus bagi perkembangan di wilayah yang terpencil. Seperti minimnya akses kendaraan yang dapat digunakan untuk mengangkut hasil-hasil produksi dari desa ke kota, serta sarana dan prasarana lainnya yang dapat menyulitkan masyarakat untuk dapat menjual hasil produksi yang telah mereka buat. Hal yang sama juga berlaku bagi masyarakat di perkotaan. Sudah seharusnya masyarakat di kota juga ikut andil dalam pembangunan bangsa dan tidak hanya menunggu hasil dari pembangunan itu sendiri. Kita harus bahu-membahu dalam membangun bangsa ini agar dapat menjadi bangsa yang besar di mata dunia. Hal terpenting yang perlu diingat dalam membangun sebuah bagsa adala kerjasama yang terjalin antara pemerintah dan masyarakat yang sangat diperlukan dalam hal ini.

Pemuda dan perannya sebagai agen perubahan bangsa Indonesia


 

Mereka yang mampu mengguncang dunia


 Di tangan pemuda, sebuah perubahan bisa terjadi. Sebab, daya imajinasi, kreasi, dan inovasi senantiasa melekat pada semangat generasi muda. Hanya pemuda yang suka perubahan bakal meraih kesuksesan. Sementara mereka yang tidak mau berubah akan tetap terpuruk dan menjadi orang tertinggal. Begitulah ungkapan yang pernah dilontarkan Pendiri Rumah Perubahan Rhenald Kasali.
“Pemuda mencintai perubahan karena seiring dengan pola berpikir mereka yang terus berkembang. Termasuk, kapasitas mereka dalam mengasah potensi dan bakat mereka agar terus mencapai perubahan atau kesempurnaan,” kata Rhenald, Sabtu 27 Oktober 2012.
Sebab, upaya melakukan perubahan memang tidak pernah bisa dilepaskan dari karakter kalangan muda. Daya imajinasi, kreasi, dan inovasi senantiasa melekat pada semangat generasi muda. Karena itu, tidak heran jika Presiden Pertama Indonesia Soekarno dalam sebuah pidatonya secara tegas mengatakan peran pemuda yang bisa diandalkan untuk melakukan perubahan. Bung Karno hanya membutuhkan 10 pemuda untuk mengguncang dunia. “Beri aku 1.000 orang tua,niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Kalimat Bung Karno tersebut merupakan gambaran bagaimana kedahsyatan pemuda sebagai agen perubahan.
Tentu saja,pemuda yang dimaksud ialah mereka yang berpikiran positif, dan berprestasi. Saat ini ini populasi pemuda Indonesia mencapai 64 juta orang (berdasarkan Sensus Penduduk 2010). Angka ini setara dengan 15 kali populasi Singapura. Jika populasi yang besar ini bisa dimanfaatkan secara maksimal, bukan tidak mungkin semakin banyak pemuda Indonesia yang bisa berbicara di kancah global. Pemuda memiliki peran sangat penting dalam mendukung kemajuan suatu bangsa. Betapa tidak, dengan besarnya energi, talenta dan kreativitas yang dimiliki, pemuda sangat mungkin menjadi agen perubahan bagi negara. Dengan besarnya potensi dan energi yang dimiliki,pemuda memang sangat mungkin untuk menjadi agen perubahan dan kemajuan bagi sebuah negara.
Buktinya kini, tidak sedikit pemuda Indonesia yang berhasil mengharumkan nama bangsa berkat keahliannya. Bahkan, dengan berbagai kemampuan dan prestasi yang berhasil diraih, beberapa dari mereka mampu membuat nama Indonesia diakui di kancah global. Kini, tidak sedikit anak muda Indonesia yang berhasil meraih berbagai prestasi di dunia internasional. Sebut saja Rio Haryanto, pembalap GP2 yang saat ini menjadi satu-satunya pembalap Indonesia pemegang lisensi Formula 1 (F1).  “Saya selalu berusaha untuk fokus dan optimistis dalam mengejar citacita yang saya impikan,” ujar Rio. Lalu, ada nama Tania Gunadi, Mojang Bandung yang sukses menjadi salah satu aktris ternama Hollywood. Kesuksesan Nia, begitu dia biasa disapa menjadi aktris ternama seperti saat ini, bukanlah hal mudah yang dapat diraih. Dia harus bekerja paruh waktu di restoran cepat saji sambil bersekolah. Menurutnya, selain selalu berpikir positif kunci suksesnya adalah tidak pernah menolak peran yang diberikan. “Karena dengan selalu positif aku merasa lebih gampang untuk menjalankan pekerjaan ini,”ujarnya.
Menurut pengamat sosial Universitas Indonesia Devie Rachmawati, populasi pemuda yang sangat besar bisa menjadi sebuah berkah demografi yang pantas disyukuri. Hal ini mengingat di sejumlah negara Eropa dan Jepang jumlahnya mengalami penurunan produktivitas karena jumlah orang tua yang besar dan tingkat produktivitas pemudanya menurun. “Namun,jumlah besar ini bisa menjadi bencana demografi jika kualitas pemuda Indonesia kurang menjanjikan,” jelas Devie yang juga menyarankan agar pemerintah mempunyai grand design yang jelas tentang arah pembangunan ke depan. Sebab, pemuda sebagai bagian dari potensi pembangunan perlu diberdayakan agar mampu berkiprah dalam memajukan bangsa, dan mereka siap menghadapi tantangan global. Apalagi, saat ini jumlah pemuda Indonesia yang mencapai 64 juta jiwa menjadi aset yang menguntungkan bagi masa depan bangsa.Jika diperhatikan secara serius beragam potensi dan bakat mereka akan terbangun dan menciptakan perubahan besar bagi kemajuan bangsa dan negara.
Komentar:
Peran pemuda dalam pembangunan suatu bangsa sangatlah penting, karena di dalam diri seorang pemudalah biasanya tersimpan ide-ide serta semangat untuk melakukan suatu perubahan bagi kemajuan bangsa ini. Banyak tersimpanan kreatifitas, motivasi, dan ide-ide segar yang dapat menjadi inspirasi dalam pembangunan bangsa kita. Sejarah perjalanan bangsa Indonesia juga tidak akan lepas dari keberadaan dan peran pemuda. Peran pemuda sangat jelas terlihat pada awal perjuangan kemerdekaan, masa kemerdekaan, dan pascakemerdekaan. Hal tersebut juga dipercayai oleh Presiden Pertama RI, yaitu Ir. Soekarno, layaknya pernyataan yang dikeluarkan oleh beliau “Beri aku 1.000 orang tua,niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya.Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”.
 Dari kalimat tersebut kita dapat menyimpulkan besarnya peranan pemuda dalam melakukan semangat pembangunan perubahan bagi bangsa Indonesia. Banyak potensi-potensi yang dimiliki oleh para pemuda yang seharusnya dapat dikembangkan agar dapat membawa bangsa Indonesia ke arah pembangunan yang lebih baik. Karena dalam usia ini pola pikir kita sedang dalam masa perkembangan yang baik, ada baiknya pemerintah juga mendukung kreativitas dan ide-ide para pemuda bangsa Indonesia. Sebab terkadang ide-ide kreatif yang muncul tidak dibarengi oleh dukungan dari pemerintah, misalnya saja dalam segi modal ataupun peralatan yang dibutuhkan untuk mengembangkan suatu inovasi. Sudah semestinya kretivitas dari para pemuda didukung oleh pemerintah, karena pemuda merupakan agen dalam perubahan bangsa ke arah yang lebih baik, dan pemuda juga merupakan generasi penurus bangsa Indonesia.


Sumber:

Kamis, 01 November 2012

Peran keluarga dalam pembangunan bangsa Indonesia


  Peran Keluarga dalam Membangun Bangsa yang Berperadaban


 Salah satu prinsip yang mulai hilang dari tengah masyarakat kita adalah kesadaran bahwa reformasi masyarakat tidaklah berdiri sendiri. Menurut Hasan Al Banna, bahwa reformasi suatu bangsa dimulai dari pembentukan pribadi muslim yang kokoh. Tahapan reformasi yang dituntut dan harus dilakukan oleh seorang reformis adalah:
  1. Melakukan reformasi terhadap dirinya sendiri sehingga ia menjadi pribadi yang kuat secara fisik, berakhlak mulia, berwawasan luas, mampu mencari nafkah, memiliki aqidah yang murni, beribadah dengan baik, mampu menempa diri, mengelola waktunya dengan afektif, tertib dalam semua urusan dan bermanfaat bagi sesamanya.
  2. Membentuk keluarga muslim dengan menghormati seluruh anggota keluarga untuk menghormati pendapat masing-masing, menjaga adab-adab Islam dalam kehidupan sehari-hari, memilih pasangan yang baik, menyadarkan akan peran/tugas dan tanggung jawabnya, mengenalkan pendidikan anak yang baik, bersikap bijak pada pembantu, dan membimbing semua penghuni rumah agar tumbuh dan beraktivitas di atas landasan-landasan Islam.
  3. Melakukan reformasi di masyarakat dengan menebar sebanyak mungkin kebaikan di tengah mereka, memerangi segala sikap rendah dan munkar, memberikan motivasi untuk berprestasi, mengajak pada kebaikan, menyuburkan amal-amal yang baik, membentuk opini umum yang bernafaskan Islam, serta mewarnai seluruh kehidupan masyarakat dnegan nilai-nilai kebaikan.
  4. Melakukan reformasi bangsa dengan melepaskan bangsa itu dari segala cengkeraman penjajah yang menjelma dalam berbagai bentuk baik dari sisi politik. Ekonomi, dan spiritual.
Peran Keluarga dalam Membangun Bangsa yang Berperadaban
Dalam fikih Islam dikenal bahwa tujuan-tujuan dari berkeluarga adalah menjaga/melanjutkan keturunan, meraih ketenangan/sakinah, memupuk rasa cinta/mawadah, berkasih sayang/rahmah., menjaga kehormatan serta menjaga sikap/suasana keagamaan dalam keluarga. Terdapat tujuan-tujuan berkeluarga yang tidak populer di tengah masyarakat:
  1. Mendidik generasi yang memiliki karakter Islam
Suatu keluarga tidak dikatakan sebagai keluarga muslim kecuali apabila tergambar nilai-nilai Islam dan anak-anaknya dididik dengan pendidikan Islam. Metode: keteladanan, mengajak dengan sikap bijaksana (hikmah) dan nasehat yang baik,cerita dan pengalaman, hadiah dan hukuman.
2. Menjaga adab Islam dan keluarga
Misal: perabotan yang tidak bertentangan dengan syariah, adab makan, minum, berinteraksi dengan orang yang lebih tua, lebih muda, kerabat,tetangga,  dll.
3. Menyambungkan hati anak dengan masjid
Sesungguhnya masjid mengenalkan seseorang pada kebersihan dengan maknanya yang sangat luas, ketaatan, disiplin, keteraturan, dan semua kaidah-kaidah kehidupan bermasyarakat.
4. Mendorong anak yang telah dibekali dengan akhlak Islam untuk terjun dalam masyarakat. Akhlak Islam itu terangkum dalam dua hal yaitu menunaikan kewajiban dan memelihara hak.
5. Mengarahkan anak untuk selalu berprestasi dan kreatif
Bukan hanya mendorong, akan tetapi juga mengarahkan dan memberikan sarana yang dibutuhkan untuk memicu prestasi dan kreatifitas masing-masing.
6. Mengarahkan anak untuk selalu berdakwah kepada Allah SWT
7. Membina hubungan baik antar keluarga muslim

Disampaikan pada konferensi keluarga muslim internasional di Bandung. 7 mei 2011

Komentar:
           Banyak orang yang tidak menyadari bahwa awal dari membangun bangsa yang beradab tentu berasal dari hal yang kecil, yaitu dari mebangun kualitas seorang individu. Untuk dapat membangun bangsa yang lebih baik kita harus melihat awal mula proses pembentukan karakter seseorang. Pembentukan karakter seseorang dapat dipengaruhi dari lingkungan sekitar tempat dia berkembang, yaitu lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar. Dalam hal ini peran keluarga sangat penting untuk membantu seseorang dalam menemukan jati dirinya agar dapat menjadi pribadi yang baik serta dapat berguna bagi bangsanya. Peran keluarga khususnya orang tua disini tidak hanya memberikan pendidikan formal kepada anak-anaknya. Namun juga harus meberikan pendidikan moral serta pegangang hidup bagi anak-anak mereka yaitu agama.
       Orang tua diharapkan dapat memberikan contoh yang baik bagi anak mereka, karena anak-anak biasanya akan hidup dengan berpedoman pada orang tua mereka. Misalnya saja orang tua yang cenderung melakukan kekerasan di rumah maka anak mereka juga akan cenderung berbuat kasar pada orang lain. Hal ini dapat disebabkan bahwa mereka menganggap hal tersebut wajar dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi hal sebaliknya akan terjadi apabila si orang tua memberikan contoh yang baik bagi anak mereka. Seperti memberikan pengarahan terhadap anak mereka mengenai pentingnya saling menghormati satu sama lain di kalangan masyarakat, saling tolong-menolong, dan memberikan pelajaran moral dan formal yang lainnya.

Sumber: