Rabu, 28 Desember 2011

Manusia Dan Tanggung Jawab


 
Pengertian tanggung jawab memang seringkali terasa sulit untuk menerangkannya dengan tepat. Adakalanya tanggung jawab dikaitkan dengan keharusan untuk berbuat sesuatu, atau kadang-kadang dihubungkan dengan kesedihan untuk menerima konsekuensi dari suatu perbuatan. Banyaknya bentuk tanggung jawab ini menyebabkan terasa sulit merumuskannya dalam bentuk kata-kata yang sederhana dan mudah dimengerti. Dalam kebudayaan kita, umumnya "tanggung jawab" diartikan sebagai keharusan untuk "menanggung" dan "menjawab" dalam pengertian lain yaitu suatu keharusan untuk menanggung akibat yang ditimbulkan oleh perilaku seseorang dalam rangka menjawab suatu persoalan.

Namun kalau kita amati lebih jauh, pengertian tanggung jawab selalu berkisar pada kesadaran untuk melakukan, kesediaan untuk melakukan, dan kemampuan untuk melakukan. Tetapi jika kita diminta untuk melakukannya sesuai dengan definisi tanggung jawab tadi, maka seringkali masih merasa sulit, merasa keberatan, bahkan ada orang yang merasa tidak sanggup jika diberikan kepadanya suatu tanggung jawab. Kebanyakan orang mengelak bertanggung jawab, karena jauh lebih mudah untuk “menghindari” tanggung jawab, daripada “menerima” tanggung jawab.


Oleh karena itulah muncul satu peribahasa, “lempar batu sembunyi tangan”. Sebuah peribahasa yang mengartikan seseorang yang tidak berani bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri, sehingga dia membiarkan orang lain menanggung beban tanggung jawabnya. Bisa juga diartikan sebagai seseorang yang lepas tanggung jawab, dan suka mencari “kambing hitam” untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari perbuatannya yang merugikan orang lain. Sebagian orang, karena tidak bisa memahami arti dari sebuah tanggung jawab; seringkali dalam kehidupannya sangat menyukai pembelaan diri dengan kata-kata, “Itu bukan salahku!” Sudah terlalu banyak orang yang dengan sia-sia, menghabiskan waktuya untuk menghindari tanggung jawab dengan jalan menyalahkan orang lain, daripada mau menerima tanggung jawab, dan dengan gagah berani menghadapi tantangan apapun di depannya.

Arti Pengorbanan 

Apabila kita bebicara tentang tanggung jawab tidaklah lepas dari pengorbanan saat melakukannya, berikut ini saya akan mencatumkan kisah yang menurut saya merupakan suatu pengorbanan yang sesungguhnya. Berikut ceritanya :

“Beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Semarang sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur. Si Pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan. " Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?" tanya si Pemuda. "Oh.. . Saya mau ke Jakarta terus "connecting flight" ke Singapore nengokin anak saya yang ke dua" jawab ibu itu. " Wouw..... hebat sekali putra ibu", pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak, pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan pertanyaannya. " Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi, putra yang kedua ya Bu?? Bagaimana dengan adik-adiknya? " "Oh ya tentu", si Ibu bercerita :"Anak saya yang ketiga seorang Dokter di Malang, yang keempat Kerja di Perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi Arsitek di Jakarta, yang keenam menjadi Kepala Cabang Bank di Purwokerto, yang ke tujuh menjadi Dosen di Semarang." Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh. 

 "Terus bagaimana dengan anak pertama ibu ??" Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, " anak saya yang pertama menjadi Petani di Godean Jogja nak.. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar." Pemuda itu segera menyahut, "Maaf ya Bu..... kalau ibu agak kecewa ya dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia menjadi petani?" Dengan tersenyum ibu itu menjawab," Ooo ...tidak, tidak begitu nak....Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani". Menurut saya, yang berhasil itu bukan anak ke 2, 3, 4, 5, 6, dan 7 tetapi anak pertama. Anak pertama telah berhasil mengelola perasaan dan hidupnya untuk berkorban bagi keberhasilan adik-adiknya.

Dari kisah diatas kita dapat melihat  besarnya pengorbanan yang dilakukan oleh sang kakak demi keberhasilan adik-adiknya. Dengan penghasilannya sebagai petani ia mampu membiayai pendidikan adiknya hingga mereka bisa menjadi orang yang sukses. Padahal penghasilan sebagai petani tidaklah seberapa, namun rasa tanggung jawab sebagai kakak yang pertama membuatnya berjuang agar dapat membuat adiknya sukses. Pengorbanan sang kakak terlihat jelas demi keberhasilan adiknya dengan mengesampingkan perasaannya sendiri. Terima kasih kepada para pembaca yang telah menyempatkan diri mampir di blog saya J semoga kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi kita.

Sumber :

http://hadi-detected.blogspot.com/2011/06/pengertian-tanggung-jawab.html

http://filsafat.kompasiana.com/2010/11/03/makna-tanggung-jawab/

Sumber Cerita :




                                                   








Tidak ada komentar:

Posting Komentar